Strategi INVI Menembus Batas EV di Sektor Pertambangan

Upaya INVI dalam Mendorong Implementasi Kendaraan Listrik di Wilayah Operasional Tambang

Sektor pertambangan Indonesia mulai memasuki fase baru dalam transisi energi. PT Energi Makmur Buana (INVI) menyatakan bahwa penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), khususnya dump truck, telah siap memasuki tahap operasional.

Hal tersebut disampaikan Alif Sasetyo, Direktur Utama INVI, dalam program Autobizz CNBC Indonesia bertajuk “EV di Perut Bumi: Efisiensi yang Teruji atau Masih Asumsi?”. Menurutnya, EV di sektor tambang kini tidak lagi sekadar proyek percontohan, melainkan mulai menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan.

INVI menegaskan bahwa transisi ke EV didasarkan pada pre-commercial assessment yang ketat. Alif menekankan bahwa kecepatan bukanlah prioritas utama, melainkan ketahanan sistem.

“Yang utama bukan seberapa cepat masuk ke fase operasional, tapi bagaimana memastikan sistem tersebut siap dan dapat bertahan secara berkelanjutan (sustained),” ungkap Alif.

Untuk memastikan unit EV mampu bekerja di lingkungan heavy-duty, INVI fokus pada tiga parameter kunci:

  1. Reliability & Availability: Memastikan unit siap bekerja 24/7 tanpa kendala teknis yang menghambat produksi.
  2. Adaptasi Produk: Penyesuaian spesifikasi pada payload, kemampuan menanjak (gradeability), hingga sistem pendingin (thermal management) yang disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia yang lembab dan panas.
  3. Infrastruktur Pengisian Daya: Pengembangan sistem fast charging yang terintegrasi dengan pola kerja tambang agar tidak mengganggu produktivitas.

INVI juga menilai bahwa tantangan utama dalam transisi ini tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada perubahan pola kerja. Perbedaan antara charging cycle dengan pengisian diesel memerlukan adaptasi pola operasional yang presisi.

Untuk itu, perusahaan melakukan investasi pada pengembangan sumber daya manusia melalui kolaborasi dengan produsen peralatan (original equipment manufacturer/OEM) dan institusi pendidikan. Langkah ini bertujuan meningkatkan kompetensi teknisi dan operator lokal.

Meski investasi awal (capex) untuk EV relatif lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional, INVI melihat gambaran besar melalui pendekatan Total Cost of Ownership. Efisiensi signifikan muncul dari pemotongan biaya bahan bakar secara drastis, biaya perawatan (maintenance) yang lebih rendah karena komponen mesin EV yang lebih ringkas dan peningkatan nilai keberlanjutan perusahaan di mata global

Ke depan, INVI memproyeksi bahwa adopsi EV di sektor tambang akan terus berakselerasi. Kunci utamanya terletak pada kolaborasi ekosistem — mulai dari ketersediaan suku cadang hingga dukungan infrastruktur pengisian daya yang tersebar luas.

“EV mungkin bukan satu-satunya solusi, namun ia adalah komponen strategis dalam transformasi industri menuju masa depan yang lebih efisien dan rendah emisi,” tutup Alif. 

Langkah INVI mencerminkan pergeseran pendekatan di industri pertambangan, dari sekadar fokus pada produksi menjadi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan efisiensi operasional. Dengan integrasi teknologi yang matang dan penguatan kompetensi lokal, transisi ini bukan lagi sekadar wacana hijau, melainkan standar baru dalam industri.