MATAPPA Festival: Menghidupkan Warisan Budaya Sulawesi Selatan Bersama Generasi Muda

Tanggal Terbit21 October 2026

Dalam semangat perayaan 26 Tahun Indika Energy untuk Negeri dan Hari Jadi ke-357 Sulawesi Selatan, Indika Foundation menghadirkan MATAPPA Festival sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan budaya Bugis-Makassar melalui kreativitas, seni, dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan masa kini.

Benteng Rotterdam, Makassar, menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan kreativitas generasi muda dalam penyelenggaraan MATAPPA Festival pada 15 Oktober 2026. Lebih dari 600 pengunjung dari berbagai kalangan hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang mengajak masyarakat untuk mengenal kembali kekayaan budaya Sulawesi Selatan dengan cara yang lebih interaktif dan relevan.

Diselenggarakan oleh Indika Foundation, festival bertema “Energizing Sulawesi Selatan through Culture: The Quiet Journey of I La Galigo” ini menghadirkan peluncuran buku, diskusi budaya, lokakarya kreatif, pertunjukan seni, hingga instalasi interaktif. Lebih dari 60 komunitas dari berbagai wilayah Sulawesi Selatan turut terlibat, termasuk ZineMo, AksaraHub, Sanggar Ulusalu, Batara Gowa, dan Studio Kerabat.

Penyelenggaraan MATAPPA Festival menjadi semakin bermakna karena berlangsung dalam momentum dua peringatan penting, yaitu Hari Jadi ke-357 Sulawesi Selatan dan HUT ke-26 Indika Energy yang sama-sama diperingati pada 19 Oktober 2026.  Melalui kegiatan ini, semangat “26 Tahun Indika Energy untuk Negeri” diwujudkan melalui dukungan terhadap pelestarian budaya lokal, penguatan komunitas, serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan Indonesia.

Mengenal Kembali I La Galigo dan Para Penjaga Warisan Budaya

MATAPPA Festival terinspirasi dari perjalananB.F. Matthes dalam mendokumentasikan bahasa dan budaya Sulawesi Selatan, serta kontribusi Colliq Pujié dalam menyalin dan merawat naskah I La Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia.

Warisan tersebut menjadi inspirasi bagi peluncuran trilogi buku Matthes, Colliq Pujié, dan Matappa karya Alan TH., yang diterbitkan oleh Indika Foundation dengan dukungan Indika Energy dan PT Masmindo Dwi Area. Melalui pendekatan cerita yang lebih dekat dengan pembaca masa kini, trilogi tersebut mengangkat sosok-sosok yang memiliki peran penting dalam menjaga pengetahuan dan identitas budaya Sulawesi Selatan.

“Warisan budaya akan tetap hidup jika generasi muda memiliki ruang untuk mengenal, mengalami, dan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui MATAPPA Festival, kami ingin menghadirkan budaya sebagai sesuatu yang lebih dekat untuk anak muda,” ujar Aprida Sondang, Managing Director Indika Foundation.

Semangat tersebut juga dihadirkan melalui diskusi “Finding Our Value in a Changing World”, yang mempertemukan Prof. Dr. Dra. Nurhayati Rahman, M.S., Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, penulis Alan TH., dan kreator konten muda Muh Rijal Djamal. Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam I La Galigo tetap memiliki relevansi di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan kehidupan generasi masa kini.

Ketika Budaya Menjadi Pengalaman yang Dekat dengan Anak Muda

Melalui lokakarya pembuatan zine bersama ZineMo, pengenalan aksara Lontara bersama AksaraHub, serta fotografi bersama Dwi Julian, Pendiri Shoot Photography Makassar, para peserta diajak mengeksplorasi budaya melalui media kreatif yang dekat dengan keseharian mereka.

Suasana festival semakin hidup dengan penampilan Tari Pajaga Lili dari Sanggar Ulusalu, Tari Appakase’re dari Batara Gowa, serta pementasan teater Sekutu Dua Seteru oleh Studio Kerabat yang mengadaptasi penggalan kisah dari buku Matappa.

Pengunjung juga dapat menelusuri perjalanan sejarah melalui instalasi Lorong Pengetahuan dan I La Galigo Corner. Kedua ruang ini menghadirkan cerita tentang B.F. Matthes, Colliq Pujié, serta proses pelestarian naskah Bugis-Makassar, termasuk naskah digital I La Galigo yang ditampilkan dengan dukungan Universitas Leiden, institusi yang menyimpan dan merawat naskah aslinya.

Beragam pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami budaya melalui pendekatan yang lebih personal dan partisipatif.

“Dari festival ini, saya belajar bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Budaya akan tetap hidup jika kita mau mengenal, menghargai, dan memperkenalkannya dengan cara yang menarik dan dekat dengan generasi muda,” ujar Muh. Khairan Isnan, salah satu pengunjung MATAPPA Festival.

Merawat Warisan, Menguatkan Generasi Masa Depan

MATAPPA Festival menjadi salah satu upaya Indika Foundation untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga dan melestarikan pengetahuan serta nilai-nilai budaya Indonesia. Keterlibatan puluhan komunitas lokal juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam memastikan warisan budaya tetap hidup dan berkembang.

Dengan mempertemukan komunitas, seniman, akademisi, dan generasi muda, MATAPPA Festival menghadirkan ruang untuk mengenal, mempelajari, dan mewariskan kekayaan budaya Bugis-Makassar melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

BAGIKAN