Indika Energy Semester I-2026: Bertumbuh di Berbagai Lini, Melangkah dalam Transformasi

 Kontribusi berbagai lini bisnis mendorong pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas, seiring konsistensi Indika Energy dalam memperkuat portofolio non-batubara.

Indika Energy mencatatkan penguatan kinerja sepanjang enam bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$1.146,9 juta, meningkat 19,9% dibandingkan US$956,8 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut turut mendorong laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi US$10,2 juta, dari US$2,2 juta pada Semester I 2025. Adjusted EBITDA juga tumbuh 43,8% menjadi US$139,1 juta, dengan marjin yang membaik dari 10,1% menjadi 12,1%.

Kontribusi dari Berbagai Lini Bisnis

Penguatan kinerja Indika Energy didukung oleh kontribusi yang lebih tinggi dari Kideco Jaya Agung (Kideco), Tripatra, Interport Mandiri Utama (Interport), dan Indika Indonesia Resources.

Pendapatan Kideco meningkat 10,2% menjadi US$855,1 juta, didukung oleh kenaikan volume penjualan sebesar 2,4% menjadi 14,8 juta ton dan peningkatan harga jual rata-rata sebesar 6,8% menjadi US$54,7 per ton. Dari total volume tersebut, sebanyak 43,5% dipasarkan di dalam negeri dan 56,5% ke pasar ekspor. Kinerja ini turut mendorong marjin laba kotor Kideco meningkat menjadi 19,0% dari 14,2% pada Semester I 2025.

Indika Indonesia Resources membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 79,4% menjadi US$42,7 juta. Pertumbuhan terutama ditopang oleh peningkatan volume perdagangan batubara sebesar 104% menjadi 539 ribu ton, serta penjualan batubara berkalori lebih tinggi. Selain itu, Perseroan mencatat pendapatan sebesar US$3,8 juta dari perdagangan non-batubara, terutama bauksit dari Mekko.

Di lini jasa energi, pendapatan Tripatra tumbuh 41,3% menjadi US$167,4 juta. Kontribusi tersebut terutama berasal dari Proyek APA Geng North, FEED FPCI untuk Proyek LNG Abadi, Proyek Sambar Development, serta jasa project management consultancy untuk Proyek UCC.

Interport juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 57,9% menjadi US$86,7 juta, terutama didukung oleh aktivitas perdagangan bahan bakar. Pendapatan Interport turut ditopang oleh Cotrans serta KGTE melalui bisnis penyimpanan bahan bakar.

Pertumbuhan Pendapatan Memperkuat Profitabilitas

Seiring meningkatnya aktivitas operasional, Harga Pokok Penjualan tumbuh 17,2% menjadi US$965,8 juta. Kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan Perseroan yang mencapai 19,9%.

Pada Kideco, cash cost di luar royalti meningkat 9% menjadi US$37,3 per ton, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar. Sementara itu, Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi naik 4,6% menjadi US$82,2 juta, sejalan dengan pertumbuhan aktivitas bisnis dan kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak terkait Kideco.

Di tengah dinamika tersebut, laba kotor Perseroan meningkat 36,5% menjadi US$181,2 juta. Laba usaha tumbuh 82,9% menjadi US$99,0 juta, dengan marjin laba usaha yang membaik dari 5,7% menjadi 8,6%.

Kontribusi laba bersih dari entitas asosiasi juga meningkat menjadi US$6,9 juta, sementara beban keuangan relatif stabil pada US$34,7 juta. Setelah memperhitungkan berbagai komponen tersebut, termasuk rugi selisih kurs sebesar US$8,3 juta akibat depresiasi rupiah, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi US$10,2 juta.

Melanjutkan Investasi pada Bisnis Non-Batubara

Sejalan dengan transformasi menuju portofolio bisnis yang semakin terdiversifikasi, Indika Energy mengalokasikan 99,1% dari total belanja modal sebesar US$83,1 juta untuk bisnis non-batubara.

Alokasi terbesar digunakan untuk pengembangan Proyek Awak Mas, dengan nilai investasi sebesar US$71,4 juta selama Semester I 2026. Hingga 30 Juni 2026, progres konstruksi Awak Mas telah mencapai 60,63% menuju penyelesaian commissioning tahap kedua atau C2. Secara kumulatif, total biaya yang telah dikeluarkan untuk proyek tersebut mencapai US$340,0 juta.

“Kinerja Semester I 2026 menunjukkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis, tercermin dari pertumbuhan pendapatan, laba kotor, dan Adjusted EBITDA. Pada saat yang sama, alokasi lebih dari 99% belanja modal ke bisnis non-batubara, terutama pengembangan Proyek Awak Mas, menegaskan disiplin kami dalam membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, resilien, dan berkelanjutan,” tutur Azis Armand, Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy.

Berbagi Nilai kepada Pemegang Saham

Selain memperkuat kinerja dan melanjutkan investasi strategis, Indika Energy telah membagikan dividen sebesar US$3.013.598 pada 19 Juni 2026. Pembagian tersebut dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diselenggarakan pada 20 Mei 2026.

Kinerja Semester I 2026 menjadi fondasi bagi Indika Energy untuk terus memperkuat bisnis yang ada sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru. Kontribusi dari berbagai lini bisnis, didukung investasi yang terarah, menjadi bagian penting dari perjalanan transformasi Indika Energy menuju portofolio yang semakin terdiversifikasi dan tangguh.