Pelatihan Numerasi Interport dan Indika Foundation Ubah Cara Pandang Guru di Balikpapan Barat

Kolaborasi PT Interport Mandiri Utama dan Indika Foundation membuka cara pandang baru para guru bahwa numerasi bukan sekadar tentang angka, melainkan keterampilan hidup yang dapat hadir dalam setiap ruang belajar.

Bagi sebagian guru, numerasi masih kerap dianggap identik dengan angka, rumus, dan pelajaran Matematika. Padahal, numerasi memiliki cakupan yang lebih luas dan dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran maupun situasi sehari-hari. Pemahaman inilah yang menjadi fokus pelatihan penguatan numerasi yang diselenggarakan PT Interport Mandiri Utama (Interport) bersama Indika Foundation pada Juli 2026 di Balikpapan Barat. Program tersebut berangkat dari hasil asesmen di sekitar area operasional Interport yang menunjukkan masih adanya tantangan dalam kemampuan numerasi peserta didik. Melihat peran guru sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari, peningkatan kapasitas guru menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk memperkuat proses pembelajaran di sekolah.

69 Guru Belajar Melihat Numerasi dari Perspektif yang Lebih Luas

Sebanyak 69 guru SD dan SMP mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari. Guru SMP mengikuti pelatihan pada 15–17 Juli 2026, sedangkan guru SD pada 20–22 Juli 2026. Dalam pelatihan, peserta tidak hanya mengikuti sesi pemaparan materi. Mereka juga berdiskusi, mencoba berbagai aktivitas, bertukar pengalaman, dan merancang pendekatan yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Salah satu perubahan penting yang muncul adalah cara guru memahami numerasi. “Padahal keduanya sangat berbeda,” ujar salah satu peserta ketika merefleksikan perbedaan antara Matematika dan numerasi. Para peserta mulai memahami bahwa numerasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru Matematika atau IPA. Guru Bahasa Indonesia, IPS, maupun mata pelajaran lainnya juga dapat mengintegrasikan keterampilan numerasi ke dalam proses pembelajaran.

Data dalam sebuah artikel, informasi pada grafik, perbandingan harga, maupun persoalan sehari-hari dapat menjadi bahan untuk melatih siswa membaca informasi, bernalar, dan mengambil keputusan. Dengan pendekatan tersebut, numerasi menjadi lebih dekat dengan kehidupan siswa dan tidak lagi terbatas pada aktivitas berhitung di ruang kelas.

Pemahaman Guru Meningkat, Kepercayaan Diri untuk Mengajar Menguat

Perubahan tersebut juga terlihat dari hasil evaluasi program. Rata-rata skor pemahaman peserta meningkat dari 74,1 menjadi 84,0, sementara 70 persen peserta menunjukkan peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan. Tidak hanya dari sisi pengetahuan, para guru juga menunjukkan kesiapan yang lebih baik untuk menerapkan pendekatan tersebut dalam proses belajar mengajar.

Hasil evaluasi menunjukkan 94 persen peserta memiliki tingkat teaching efficacy yang baik setelah pelatihan. Artinya, sebagian besar peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasa lebih percaya diri untuk membawanya ke ruang kelas. Hal ini menjadi penting karena dampak pelatihan tidak berhenti pada apa yang dipahami guru, tetapi pada bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan bagi siswa.

Dari Pelatihan ke Praktik di Sekolah

Program ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Sebagai tindak lanjut, Interport dan Indika Foundation melakukan pendampingan kepada guru dan kepala sekolah di sekitar area operasional perusahaan untuk menyusun rencana penerapan pembelajaran numerasi di sekolah masing-masing.

Dalam proses tersebut, sekolah diajak mengidentifikasi tantangan numerasi yang dihadapi peserta didik, menentukan pendekatan yang sesuai, serta merancang pembelajaran yang lebih kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pendampingan dan pemantauan berkala dilakukan agar pembelajaran yang diperoleh selama pelatihan dapat berkembang menjadi praktik nyata di ruang kelas. Bagi Interport dan Indika Foundation, kemampuan numerasi tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Numerasi membantu peserta didik memahami informasi, melihat persoalan secara lebih kritis, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penguatan kapasitas guru, kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas dampak pembelajaran kepada lebih banyak peserta didik sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Balikpapan Barat.