Perspektif Prabaharan Gopalan: AI Bukan Soal Adopsi, tetapi Nilai Bisnis

Tanggal Terbit4 November 2026

Dalam forum internasional ICAME ke-11 di Universitas Hasanuddin, Prabaharan Gopalan, Chief Information Officer Indika Energy, berbagi perspektif mengenai pentingnya menyeimbangkan inovasi dan tata kelola dalam transformasi kecerdasan buatan (AI), serta bagaimana teknologi ini dapat memberikan dampak nyata bagi bisnis.

KEY TAKEAWAYS
  • Menurut Praba Ghopalan, tingginya adopsi AI belum otomatis menghasilkan nilai bisnis; fokus utama harus bergeser dari penggunaan teknologi ke hasil yang terukur.
  • Implementasi AI akan lebih efektif ketika dimulai dari kebutuhan bisnis yang nyata, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.
  • Inovasi dan tata kelola harus tumbuh bersama agar AI dapat digunakan lebih luas tanpa mengorbankan keamanan, risiko, dan akuntabilitas.

Perkembangan AI terus membuka peluang baru bagi dunia usaha, mulai dari meningkatkan efisiensi operasional hingga menghadirkan inovasi dalam proses bisnis. Namun, di tengah pesatnya adopsi teknologi ini, organisasi masih menghadapi tantangan untuk menerjemahkan penggunaan AI menjadi nilai bisnis yang terukur. 

Topik tersebut menjadi pembahasan utama dalam sesi “AI Transformation: Beyond the Hype – Balancing Innovation & Governance” yang dibawakan oleh Prabaharan Gopalan, Chief Information Officer Indika Energy, pada 8 Oktober 2026 dalam The 11th International Conference on Accounting, Management, and Economics (ICAME). 

Diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Makassar, konferensi bertema “Navigating the Intelligent Economy: Innovation and Governance” ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membahas perkembangan teknologi serta pentingnya tata kelola dalam menghadapi era ekonomi digital. 

Adopsi AI Meningkat, Namun Nilai Bisnis Masih Menjadi Tantangan 

Dalam pemaparannya, Prabaharan menyoroti kesenjangan antara tingginya tingkat penggunaan AI dan dampak bisnis yang dihasilkan. Hampir sembilan dari sepuluh organisasi telah mengadopsi AI dalam berbagai aktivitasnya. Namun, hanya sekitar 6% organisasi yang dilaporkan telah merasakan dampak signifikan terhadap pendapatan. 

Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak cukup diukur dari banyaknya teknologi yang digunakan atau jumlah proses yang berhasil diotomatisasi. Seiring meningkatnya investasi global dalam infrastruktur AI, perusahaan perlu memastikan bahwa penerapannya mampu memberikan nilai tambah yang nyata, tidak hanya melalui peningkatan produktivitas, tetapi juga pengembangan produk, layanan, dan cara kerja baru yang relevan dengan kebutuhan pengguna. 

Tantangan tersebut semakin kompleks bagi industri yang memiliki aktivitas operasional fisik dan standar keselamatan tinggi, seperti energi, logistik, dan engineering. Implementasi AI di sektor-sektor ini memerlukan kesiapan sistem, pengelolaan risiko, serta integrasi dengan proses operasional yang telah berjalan. 

Inovasi dan Tata Kelola Harus Berjalan Bersama 

Selain menciptakan nilai bisnis, Prabaharan juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan tata kelola teknologi. Tata kelola tidak seharusnya menghambat pengembangan teknologi, melainkan menjadi fondasi yang memungkinkan AI diterapkan secara aman dan bertanggung jawab. Sebaliknya, inovasi juga perlu mendukung proses tata kelola agar semakin efektif. 

Keseimbangan keduanya menjadi penting agar transformasi AI tidak hanya mendorong percepatan adopsi teknologi, tetapi juga memberikan manfaat bisnis yang berkelanjutan. 

Penerapan AI dalam Transformasi Digital Indika Energy 

Prinsip tersebut mulai diterapkan melalui berbagai inisiatif transformasi digital di Indika Energy Group, termasuk diskusi bersama anak-anak perusahaan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan peluang penggunaan AI yang relevan dengan masing-masing bisnis. 

Di tingkat grup, perangkat Enterprise AI telah diluncurkan untuk mendukung peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat tata kelola penggunaan teknologi. AI juga mulai diintegrasikan ke dalam aktivitas kerja sehari-hari, termasuk melalui sistem IT ticketing Moola berbasis AI dan penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) baru yang telah dilengkapi kapabilitas AI sejak awal implementasinya. 

Berbagai inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Indika Energy untuk membangun kapabilitas digital yang lebih terintegrasi di seluruh grup. Dengan kebutuhan operasional yang beragam, penerapan AI diharapkan dapat membantu tim bekerja lebih efektif, mempercepat penyelesaian masalah, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi. 

Meski demikian, keberhasilan implementasi AI tidak hanya dilihat dari tingkat adopsi teknologi. Dampak yang dihasilkan terhadap proses kerja dan kinerja bisnis tetap menjadi ukuran utama, dengan memastikan setiap langkah penerapannya dilakukan secara bertanggung jawab. 

Bagi Indika Energy, langkah ke depan bukan hanya memperluas penggunaan AI, tetapi memastikan teknologi tersebut dapat mendukung kebutuhan bisnis, memperkuat cara kerja, serta menciptakan nilai jangka panjang.

BAGIKAN