Pelajaran Indika Energy dalam Membangun Ekosistem Inovasi dari Uji Coba ke Skala Industri

Tanggal Terbit4 November 2026

Dalam DTIIF 2026, Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand membagikan pengalaman pengembangan truk tambang listrik di Kideco dan motor listrik ALVA, sekaligus menyoroti tantangan membawa inovasi dari tahap uji coba menuju adopsi industri.

KEY TAKEAWAYS
  • Dalam DTIIF 2026, Azis Armand berpendapat bahwa teknologi baru perlu membuktikan nilai operasional dan kelayakan ekonomi sebelum dapat berkembang dari tahap uji coba menuju adopsi dalam skala industri.
  • Pengalaman implementasi 18 truk listrik di Kideco dan pengembangan ALVA menunjukkan bahwa inovasi membutuhkan ekosistem yang mencakup teknologi, model bisnis, pengguna awal, infrastruktur, dan kolaborasi antarpelaku.
  • Perusahaan besar dapat mempercepat adopsi inovasi dengan menjadi early adopter, menyediakan ruang uji coba, serta membangun jalur yang jelas dari pengujian menuju implementasi komersial.

Banyak inovasi berhasil melewati tahap pengembangan teknologi, tetapi tidak semuanya mampu mencapai skala komersial.

Menurut Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand, tantangan terbesar justru kerap muncul ketika teknologi yang telah terbukti harus beralih dari tahap uji coba menuju penerapan di pasar.

“Sebagian besar teknologi yang baik tidak mati di laboratorium. Teknologi itu mati di antara tahap uji coba dan pasar,” ujar Azis dalam diskusi panel From Discovery to Deployment: Building Innovation Ecosystems That Scale pada Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta, 27 Oktober 2026.

Dalam sesi ini, Azis berbagi panggung bersama Lara Campbell dan Dr. h.c. Sokjin Chang dari GDIN. Forum tersebut dihadiri perwakilan pemerintah, BUMN, perguruan tinggi, perusahaan teknologi, investor, serta berbagai institusi internasional.

Menurut Azis, perusahaan besar dapat mengambil peran dalam mempercepat adopsi inovasi dengan menjadi pengguna awal, menyediakan ruang uji coba, serta memberi waktu bagi teknologi untuk membuktikan kelayakannya.

Namun, peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri. Untuk berkembang menjadi sebuah industri, inovasi membutuhkan ekosistem yang melibatkan perusahaan, pemerintah, penyedia teknologi, investor, hingga konsumen.

Tiga Pertanyaan Sebelum Mengadopsi Teknologi

Dalam menilai teknologi baru, Indika Energy menggunakan tiga pertanyaan utama.

Pertama, apakah teknologi tersebut menyelesaikan persoalan nyata dalam operasional. Kedua, apakah secara ekonomi teknologi tersebut tetap layak tanpa bergantung pada subsidi secara permanen. Ketiga, bagaimana risiko dibagi apabila implementasinya tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi Azis, kesiapan teknologi di laboratorium belum tentu sama dengan kesiapan untuk digunakan dalam kondisi operasional yang sebenarnya.

“Jawabannya jarang datang dari kajian di atas meja. Jawabannya datang dari uji coba yang dirancang dengan baik dalam kondisi nyata,” tuturnya.

Pendekatan tersebut salah satunya diterapkan dalam proyek elektrifikasi kendaraan tambang di Kideco.

Dari Business Matching hingga 18 Truk Listrik di Kideco

Gagasan elektrifikasi armada angkut Kideco mulai berkembang dari sesi business matching dalam Indika Energy Summit 2024, yang mempertemukan kebutuhan operasional Kideco dengan solusi kendaraan listrik yang dikembangkan invi.

Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari kajian, uji coba di area tambang, evaluasi data operasional dan komersial, hingga penyempurnaan kendaraan dan infrastruktur pendukung.

Setelah melalui rangkaian tersebut, sejak September 2026 sebanyak 18 truk tambang listrik dan tiga stasiun penukaran baterai mulai digunakan dalam kegiatan operasional Kideco.

Bagi Azis, manfaat lingkungan perlu berjalan seiring dengan kelayakan ekonomi agar sebuah teknologi dapat diterapkan dalam skala yang lebih besar.

“Kalau hanya karena lebih hijau, proyek ini tidak akan lolos komite investasi,” ujarnya.

Karena itu, elektrifikasi armada di Kideco dirancang tidak hanya untuk mengurangi emisi, tetapi juga untuk menekan biaya energi dibandingkan armada diesel, sehingga keberlanjutannya terjaga dalam jangka panjang.

Pengalaman di Kideco menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak hanya membutuhkan produk yang siap digunakan. Teknologi juga perlu diuji dalam kondisi nyata hingga mampu membuktikan nilai operasional dan ekonominya.

ALVA dan Tantangan Membangun Pasar Baru

Jika Kideco menjadi contoh bagaimana teknologi baru diadopsi dalam operasional yang telah berjalan, pengalaman ALVA menunjukkan tantangan berbeda: membangun industri dan pasar baru.

Indika Energy mengembangkan ALVA sebagai bisnis kendaraan listrik roda dua dengan membangun sejumlah elemen pendukung secara bersamaan, mulai dari produk, fasilitas manufaktur di Cikarang, infrastruktur pengisian daya, hingga layanan baterai.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kualitas produk saja tidak selalu cukup untuk mempercepat adopsi.

Salah satu tantangan pada kendaraan listrik roda dua adalah kekhawatiran konsumen mengenai usia dan biaya baterai. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ALVA menghadirkan ALVA Bebas, skema langganan baterai yang dirancang untuk mengurangi beban awal serta risiko kepemilikan baterai bagi konsumen.

Perusahaan juga terus menyesuaikan produknya dengan kebutuhan pasar. Salah satunya melalui ALVA N3 yang menawarkan titik harga lebih terjangkau dibandingkan model sebelumnya.

“Skala datang dari titik harga yang tepat. Spesifikasi mengikuti harga, bukan sebaliknya,” kata Azis.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga pada cara sebuah produk ditawarkan dan digunakan oleh konsumen.

Model Bisnis Menjadi Kunci Adopsi

Menurut Azis, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sebuah uji coba adalah adanya jalur yang jelas menuju implementasi komersial. Ia menyebut tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, kriteria keberhasilan perlu disepakati sejak sebelum uji coba dilakukan. Dengan demikian, ketika teknologi berhasil memenuhi parameter yang telah ditentukan, terdapat kejelasan mengenai tahap berikutnya.

Kedua, inovasi perlu dilakukan tidak hanya pada produk, tetapi juga pada model bisnis. Kendaraan listrik komersial, misalnya, dapat membutuhkan investasi awal yang lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional. Model fleet-as-a-service dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kebutuhan investasi awal pelanggan dengan mengubahnya menjadi biaya layanan secara berkala.

Pendekatan serupa digunakan pada bisnis motor listrik melalui skema langganan baterai. “Inilah yang membuka jalan bagi adopsi,” ujar Azis. Ketiga, perusahaan perlu menciptakan mekanisme yang secara aktif mempertemukan kebutuhan bisnis dengan teknologi yang tersedia.

Menurut Azis, kolaborasi Kideco dan invi menjadi salah satu contoh bagaimana forum business matching dapat berkembang menjadi implementasi nyata ketika kebutuhan operasional bertemu dengan solusi yang tepat.

Kepastian Kebijakan Diperlukan untuk Membentuk Pasar

Selain kesiapan teknologi dan model bisnis, Azis menyoroti peran kebijakan dalam membangun pasar kendaraan listrik.

Menurutnya, perusahaan dapat mengurangi sebagian risiko yang dihadapi konsumen melalui inovasi produk maupun model bisnis. Namun, pembentukan pasar dalam skala besar tetap membutuhkan kebijakan yang jelas dan konsisten.

“Kepastian kebijakan lebih penting daripada kemurahan kebijakan,” katanya.

Kepastian tersebut diperlukan agar produsen, konsumen, dan investor memiliki dasar yang lebih jelas dalam mengambil keputusan jangka panjang.

Azis juga menyoroti sejumlah bagian ekosistem kendaraan listrik yang masih perlu dikembangkan, antara lain pasar kendaraan listrik bekas serta pengelolaan dan daur ulang baterai.

Kehadiran ekosistem tersebut akan semakin penting seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik yang digunakan di Indonesia.

Membuka Operasional sebagai Ruang Uji Coba

Di akhir diskusi, Azis menekankan pentingnya membuka lebih banyak ruang bagi teknologi untuk diuji dalam kondisi operasional nyata.

Perusahaan besar dan BUMN, menurutnya, dapat berperan sebagai early adopter dengan menyediakan lokasi uji coba sekaligus membangun jalur yang jelas dari tahap pengujian menuju pengadaan apabila teknologi berhasil memenuhi kriteria.

Pengalaman Kideco dan ALVA menunjukkan bahwa membawa inovasi menuju skala industri membutuhkan lebih dari sekadar teknologi yang baik. Diperlukan kebutuhan bisnis yang jelas, model ekonomi yang layak, ruang untuk melakukan uji coba, serta kolaborasi antarpelaku dalam ekosistem.

“Indika Energy siap mengambil peran, seperti yang telah kami lakukan di Kideco dan ALVA, bersama Danantara, perguruan tinggi, dan mitra global,” pungkas Azis.

Bagi Indika Energy, proses tersebut menjadi bagian dari transformasi perusahaan: tidak hanya mencari teknologi baru, tetapi juga membangun kondisi agar inovasi yang relevan dapat diuji, diterapkan, dan pada akhirnya berkembang dalam skala yang lebih luas.

BAGIKAN