Jejak Indika Energy Menuju Masa Depan, Mempercepat Transisi Energi melalui EV

Menuju 50 persen pendapatan non-batubara, Indika Energy membangun ekosistem mobilitas listrik yang inklusif

Indika Energy kembali menegaskan perannya sebagai salah satu penggerak transisi energi di Indonesia. Dalam forum Metro TV Green Summit 2026, Deddy Sudarijanto, Director and Group Chief Investment Officer Indika Energy, memaparkan transformasi bisnis yang tengah dijalankan perusahaan dalam merespons tantangan perubahan iklim dan dinamika industri energi global.

Bagi Indika Energy, komitmen mencapai net-zero emission pada 2050 serta target 50% pendapatan dari sektor non-batubara pada 2028 bukan semata agenda lingkungan. Menurut Deddy, transformasi tersebut merupakan strategi fundamental untuk menjaga keberlanjutan dan nilai investasi jangka panjang perusahaan.

“Dengan tingkat produksi saat ini, cadangan batubara kami diperkirakan hanya akan bertahan 20 hingga 25 tahun ke depan. Karena itu, diversifikasi bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan, dengan tetap bertumpu pada kompetensi kami di sektor energi,” ujarnya.

Dalam kegiatan operasionalnya, Indika Energy mencatatkan terobosan dengan menghadirkan alat berat berbasis listrik pertama di Indonesia – sebagai solusi untuk menekan emisi secara signifikan di area operasional tambang.

Komitmen transisi energi tersebut semakin diperkuat melalui ekspansi bisnis non-batubara, khususnya di sektor kendaraan listrik. Dalam lima tahun terakhir, Indika Energy membangun ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi melalui ALVA, INVI, dan KALISTA. Salah satu inisiatif strategisnya adalah kolaborasi dengan operator ojek daring untuk mengkaji konversi kendaraan berbahan bakar bensin ke listrik.

Hasil uji coba menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan, dengan potensi penghematan biaya operasional lebih dari 50% bagi mitra pengemudi.

Namun demikian, Deddy menegaskan bahwa tantangan utama adopsi kendaraan listrik secara masif masih terletak pada aspek keterjangkauan harga (affordability). Menurutnya, keberhasilan transisi mobilitas tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan solusi yang inklusif dan dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.

“PR terbesar industri saat ini adalah memastikan kendaraan listrik benar-benar menjadi solusi mobilitas yang relevan dan terjangkau. Untuk itu, kami terus mencari terobosan kreatif agar sisi permintaan dapat tumbuh secara terukur dan berkelanjutan,” tutupnya.